Seorang muslimah sudah seyogyanya untuk mempelajari hukum-hukum agamanya, terutama permasalahan yang terkait dengan permasalahan mereka. Diantaranya adalah tentang ruthubah. Berikut ini 4 hal penting diketahui tentang ruthubah,


1. Apa itu ruthubah?

Secara bahasa, الرَّطْبُ (basah) adalah lawan الْيَبْسُ (kering). Jadi, الرُّطُوبَة adalah keadaan basah/lembab.

Secara istilah, dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (2/536),

“Ruthubatu farji al-mar’ah adalah cairan putih yang wujudnya antara madzi dan keringat.”

Ar-Ruthubah keluar dari bagian dalam vagina, sering kali menjelang dan seusai haid serta pada masa kehamilan

2. Apakah semua wanita mengalaminya?

Ruthubah dialami oleh seluruh wanita; yaitu permukaan vagina selalu lembab, sama halnya dengan permukaan bagian tubuh yang berlendir lainnya.

Setiap wanita yang sehat dan memiliki rahim yang sehat mengalaminya. Keadaannya seperti air mata di mata, ingus di hidung, dan air liur di mulut.

3. Lalu apakah Ruthubah itu najis?

Perlu untuk di ketahui bahwa ruthubah yang keluar pada wanita tidaklah keluar dari saluran kencing, tetapi dari saluran lain yang bersambung dengan rahim.

Ruthubah ini diproduksi oleh kelenjar di saluran rahim. Ruthubah ini menyerupai keringat, ingus, dan ludah.

Singkatnya bahwa ruthubah hukumnya adalah suci. Syaikh Muqbil rahimahullah memfatwakan tidak najis.

Diantara argumen tentang tidak najisnya ruthubah adalah

1. Hukum asal segala sesuatu adalah suci, kecuali apabila ada dalil yang menyatakan kenajisannya.

2. Tidak didapati dalil, baik yang marfu’(langsung dari Nabi) maupun mauquf (dari sahabat), yang menyatakan kenajisan ruthubah. Dan tidak ada pula sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in yang berpendapat bahwa ruthubah hukumnya najis.

3. Telah tsabit bahwa para shahabiyyah tidak menghindari ruthubah. Mereka juga tidak mencuci pakaian mereka kecuali apabila terkena sesuatu yang kenajisannya telah diketahui, seperti darah haid.

4. Lalu apakah ruthubah membatalkan wudhu?

Ruthubah tidak membatalkan wudhu.

Diantara argumenya adalah tidak ada satu pun hadits yang shahih, hasan, bahkan dha’if yang menyebutkan masalah ruthubah. Selain itu, tidak ada seorang pun ulama yang mengharuskan wanita berwudhu setiap kali shalat disebabkan oleh keluarnya ruthubah sebagaimana keadaan wanita yang istihadhah. Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

Admin muslimahbelajar.com

AdminFiqih WanitaRuthubah,ruthubah pada wanita
Seorang muslimah sudah seyogyanya untuk mempelajari hukum-hukum agamanya, terutama permasalahan yang terkait dengan permasalahan mereka. Diantaranya adalah tentang ruthubah. Berikut ini 4 hal penting diketahui tentang ruthubah, 1. Apa itu ruthubah? Secara bahasa, الرَّطْبُ (basah) adalah lawan الْيَبْسُ (kering). Jadi, الرُّطُوبَة adalah keadaan basah/lembab. Secara istilah, dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (2/536), “Ruthubatu farji...